Terpikat dengan Museum di Thailand, Ada yang Semegah Ini

Wisata Thailand sebetulnya tidak terus-terusan bab tujuan-tujuan yang ada pada pusat Kota Bangkok saja. Yang terdapat jauh dari pusat kota diantaranya yaitu Erawan Museum.
Bertempat di Bang Mueang Mai, Distrik Mueang Samut Prakan, Samut Prakan, museum ini miliki jarak kurang lebih hampir 30 km. dari pusat kota Bangkok. Untuk menggapai tempat ini traveler dapat memanfaatkan beberapa pilihan transportasi umum, seperti BTS yang dilanjut dengan transportasi lain atau dapat juga memanfaatkan bis kota, ataupun memanfaatkan penerapan daring pemasok service transportasi.

Agar bisa rasakan sensasi seperti masyarakat lokal, diminta menentukan memanfaatkan bis. Tidak cuman mengirit cost sebab tarifnya yang jauh tambah murah, traveler bisa juga memperoleh pengalaman berhubungan langsung dengan masyarakat lokal kala ada dalam bis, terhitung dengan kondekturnya yang biasanya yaitu banyak wanita paruh baya yang masih giat kerja.

Apabila menentukan naik bis, harus siap-siap memanfaatkan bahasa badan atau persiapkan feature penerjemah, sebab sejumlah besar kondektur bahkan juga masyarakat lokal, cuma memanfaatkan bahasa Thailand serta kurang mengetahui dalam bahasa Inggris. Soal ini tentulah dapat jadi kehebohan sekalian halangan khusus kala bertandang ke negara orang ya.

Meskipun sebetulnya daerah Erawan Museum ini ada ditepi jalan raya, akan tetapi bangunan khusus tidak tampil langsung apabila cuma disaksikan sesaat. Hingga sesampainya di titik penghentian bis, traveler tidak langsung diposisikan dengan bangunan khusus dari Erawan Museum.

Situasi yang masih asri serta tertutup oleh rimbunnya pohon-pohon, bikin Erawan Museum dikit sukar untuk diketemukan. Tetapi jangan kuatir, seperti wisatawan secara umum, penerapan penunjuk arah atau peta digital satu diantara penyelamat apabila traveler tengah rasakan tersesat serta tidak jelas harus menanyakan pada siapa. Penerapan dapat perlihatkan ke mana harus berjalan sampai menemukannya titik area yang dituju, seperti ketujuan Erawan Museum ini umpamanya.

Untuk masuk ke museum, terlebih dulu traveler harus beli ticket seharga THB 300-400. Apabila beli langsung di loket, traveler bisa dikenai harga THB 400 (kurang lebih Rp 180 ribu). Tetapi apabila beli ticket memanfaatkan penerapan daring yang sediakan ticket Erawan Museum, traveler bisa mendapat harga THB 300 (kurang lebih Rp 135 ribu). Cukup, tersisa THB 100 (kurang lebih Rp 45 ribu) dapat dimanfaatkan untuk uang jajan atau beli makan siang.

Jangan dahulu berpikir harga ini begitu mahal apabila belum masuk ke ruang bangunan serta berkeliling-keliling ruang museum. Sebab apabila udah masuk ruang bangunan serta kurang lebih museum, Traveler dapat dibikin kagum serta kagum dengan arsitektur sampai filosofi bangunan ini.

Diawali kala masuk sisi luar museum, traveler dapat diterima oleh satu bangunan berwarna pink dengan patung seekor gajah raksasa berkepala tiga berdiri di atasnya. Dari terlalu jauh, arsitektur bangunannya nampak mewah serta indah, dengan supremasi warna pink yang mempunyai banyak detil ukiran. Belum menyaksikan koleksi barang antiknya saja, traveler udah dimanja dengan arsitektur bangunan yang demikian menarik.

Sehabis proses pembelian ticket usai, traveler dapat mendapat ticket berbentuk stiker bundar berwarna cokelat polos yang dapat ditempel atau dibawa jadi bukti jika udah beli ticket. Demikian masuk daerah museum, traveler dapat diterima dengan rimbunnya pohon-pohon yang menutupi sengatan matahari yang cukup tajam apabila ada kala musim panas. Gemercik air dari saluran sungai kecil pula meningkatkan situasi asri yang sejuk di ruang ini. Situasi begini memang tidak sama dengan beberapa tempat lain yang ada pada Bangkok.

Tidak seramai arah wisata lain yang ada pada pusat Kota Bangkok, di Erawan Museum, traveler bisa dikit lebih bebas untuk berkeliling-keliling serta bergaya dengan spot yang lebih sepi. Halamannya yang cukuplah luas, dapat traveler pakai untuk bergaya bersama dengan pasangan, keluarga, kawan atau berswafoto sendiri dengan latar megahnya bangunan khusus. Soal ini tentulah tidak bisa terlewati. Menyimpan kebesaran bangunan Erawan Museum yang menarik, jadi satu kewajiban apabila udah menginjakkan kaki di sini.

Warna merah muda atau pink sebagai warna menguasai dari bangunan ini. Ya, cantik memang! Tetapi tidak cuma cantik, di museum ini, tiap detil dari mulai nama, corak yang indah, tingkatan (lantai), sampai bentuk bangunannya mempunyai makna serta filosofi semasing. Seperti diambil dari web muangboranmuseum.com, Erawan sendiri sebagai nama gajah berkepala tiga (ada juga yang mengatakan mempunyai 33 kepala) dari mitologi Hindu. Diceritakan jika Erawan sebagai hewan tunggangan dari Dewa Indra (Dewa paling tinggi di Hindu). Dimaksud juga jika Erawan diakui jadi salah satunya hewan penjaga alam semesta.

Patung gajah raksasa berkepala tiga yang mendeskripsikan Erawan, gajah tunggangan Dewa Indra, terbuat dari susunan perunggu dengan berat keseluruhan menggapai 250 ton. Dan tinggi bangunannya (dari basic sampai puncaknya) menggapai 43,6 mtr.. Museum ini dibuat di atas tempat seluas kurang lebih 5 hektare. Pembangunannya sendiri udah diawali semenjak tahun 1994, usai pada tahun 2000-an serta baru mulai dibuka untuk umum pada 2013 waktu lalu.

Meskipun namanya museum, tetapi jangan pikirkan dapat langsung disajikan jejeran atau jejeran pajangan beberapa benda bersejarah seperti museum secara umum. Sebab di sini, traveler dapat menemukannya beberapa benda antik tersusun tidak dengan berjajar, akan tetapi sesuai dengan filosofi dari bangunan, hingga tidak nampak menjemukan. Di beberapa titik, diantaranya di sisi tengah bangunan ada patung Dewa yang dimanfaatkan untuk melaksanakan ibadah (berdoa) oleh pengunjung (yang sesuai kepercayaannya).

Di tempat ini terdapat empat pilar penuh ukiran yang menyokong bangunan khusus. Diambil dari web ancientcitygroup.net, nyata-nyatanya tiap pilar ini wakili narasi agama sebagai sebagian besar di Thailand, ialah Buddha, Hindu, Kristen serta Mahayana Buddhism, yang mempunyai ajaran serta keyakinan semasing.

Museum ini terdiri jadi tiga lantai yang merepresentasikan alam semesta sesuai keyakinan Hindu, ialah waktu dulu, bumi serta surga. Lantai pertama mendeskripsikan waktu dulu, yang berisi beberapa artefak mempunyai nilai koleksi pribadi dari sang pemilik, Lek Viriyaphant. Beberapa salah satunya yaitu set cangkir teh, vas sampai mangkok dari Dinasti Ming serta Dinasti Qing. Di lantai ini tersimpan patung makhluk mitos, 1/2 naga 1/2 manusia yang dipercaya udah mengontrol harta mempunyai nilai dibawah air.

Di sisi tengah lantai basic, ada tangga yang dapat mengantarkan traveler ketujuan lantai atas. Tangga terdiri dua, ke kanan dengan warna pink serta ke kiri dengan supremasi warna putih. Dua-duanya mempunyai corak serta ukiran yang membuat makhluk mitologi, naga, dari mulai kepala sampai ekornya. Sisi ini dibikin dari pelbagai bebatuan, jadi tidaklah mengherankan apabila membuahkan mahakarya yang indah serta super detil.

Gabungan warna pada corak serta ukiran pula membuat cantik bangunan museum ini. Ukiran indah dari detil naga pada tangga ini, sebagai karya dari seniman lokal (Thailand) yang diketahui jadi master dalam karya sama dengan ini, ialah Samrouy Aemoath.

Aemoath memanfaatkan tehnik kuno serta bahan alami jadi bahan khusus dalam membuat mahakaryanya. Pemakaian beberapa bahan alami punya tujuan biar membuat jadi lebih mudah proses molding serta pengerjaan motif. Beberapa bagian yang besar seperti kepala Naga, Kinnaree, Kinnorn serta beberapa sisi yang lain dibikin memanfaatkan basic semen, selanjutnya dilapis kapur, diukir, serta paling akhir dihias memanfaatkan Benjarong. Benjarong sendiri sebagai style dari keramik ciri khas Negeri Gajah Putih yang mempunyai corak warna yang cantik. Tidaklah mengherankan apabila mahakarya ini tampil indah dengan kombinasi warna yang cantik serta seirama. Pemakaian Benjarong pada susunan akhir pula meningkatkan dimensi dan struktur pada permukaan hasil jadi ukiran.

Seterusnya, ada sisi lantai dua sebagai penggambaran dari bumi rumah manusia. Di sini ada tiga benda khusus (yang terhitung karya seni serta barang antik dan seni mempunyai nilai), yakniƂ keramik Thailand, stained glass, serta tembikar dari Eropa. Apabila disaksikan dari lantai basic maka dapat tampil langit-langit museum dengan corak serupa seperti yang umumnya ada pada gereja-gereja (yaa, berikut stained glass painting). Corak lukisan di langit-langit ini sebagai seni semi-abstrak yang wakili cerita bumi. Demikian filosofis!

Selanjutnya sisi perut dari patung Gajah Kepala Tiga. Area ini ada di lantai teratas dari bangunan yang melambangkan surga. Seperti kosmologi Buddha, yang yakin jika surga terdapat di pucuk Gunung Meru. Tempat ini dibentuk mempunyai ciri-ciri dari surga serta alam semesta. Sisi langit-langitnya sebagai mural dari solar sistem, atau tata surya. Lukisan ini sebagai deskripsi cakrawala luas terhitung salah satunya yaitu planet-planet, Milky Way (galaksi Bima Sakti), meteor serta benda langit yang lain. Ini memperingatkan jika manusia cuma untuk makhluk super kecil di alam semesta ini. Di lantai ini juga tersimpan beberapa peninggalan serta patung-patung Buddha kuno dari beberapa masa. Deskripsi alam semesta tertoreh di langit-langit tempat yang dipenuhi banyak barang antik. Benar-benar kombinasi yang menarik!

Nah, apabila bertandang ke Thailand, khususnya ke Bangkok, janganlah lupa untuk meluangkan waktu berkunjung ke Erawan Museum ini. Dengan beraneka lambang pada arsitektur bangunan yang dikombinasi dengan seni yang dibikin dengan tehnik kuno, pengaturan letak yang terbentuk, serta lingkungan alam, berbaur jadi kesatuan yang seirama. Ini tentulah bikin Erawan Museum memberi situasi yang memberi dukungan traveler untuk mengerti serta menjunjung keharmonisan di antara peristiwa, budaya, agama, seni, sampai etika dari waktu dulu.

Thailand memang sebagai negara dengan sebagian besar agama Buddha. Tidak cuma itu, budaya, etika, rutinitas, bahkan juga peraturannya lantas benar-benar tidak sama dengan Indonesia. Akan tetapi dengan adanya ini traveler bisa memperoleh pelajaran.

Dari sini traveler bisa belajar terkait penerimaan (acceptance) serta menjunjung terdapatnya ketidaksamaan. Sebab tiap perjalanan, ke mana saja traveler menginjakkan kaki, dapat mendapat pengalaman serta pelajaran baru yang bisa diambil. Khususnya buat traveler muslim, sewaktu bertandang ke tempat baru dimana muslim yaitu minoritas, maka dapat rasakan bagaimana rasa-rasanya bertarung cari tempat beribadah sampai mencari makanan halal.

Soal ini dapat jadi salah satunya pengalaman perjalanan yang mengagumkan. Tiap perjalanan yaitu guru yang fantastis. Sampai traveler selanjutnya bisa mempunyai tujuan-tujuan lain yang pingin disinggahi.

Buat saya, untuk next extraordinary travel atau perjalanan fantastis seterusnya yang diidamkan yaitu bertandang ke Dubai. Jauh ya? Iya memang, tetapi itu salah satunya yang diimpikan. Salah satunya kota yang demikian dikagumi. Kota dengan berjuta pembaruan. Bangunan mewah, area wisata lux, panorama indah semua ada pada salah satunya kota di UEA ini.

Di kota yang demikian menarik ini, tentulah beberapa hal yang bisa dilaksanakan. Dari mulai bertandang ke gedung-gedung lux pencakar langit, berkunjung ke pusat belanja kekinian, menyaksikan pemandangan kota dengan pembaruan yang fantastis, sampai nikmati indahnya berkilau lampu-lampu kota sewaktu malam hari.

Tidak hanya itu, kota yang terdapat di selama garis pantai Teluk Persia (Persian Gulf) ini mempunyai panorama memesona yang indah dari pulau-pulau bikinannya (reklamasi), terhitung salah satunya yaitu Palm Island serta The World Islands (pulau-pulau reklamasi yang mendeskripsikan pulau-pulau yang ada pada dunia, juga termasuk pulau-pulau yang ada pada Indonesia).

Beraneka info dari kota superinovatif ini ada dari pelbagai sumber, bagaimana dapat tidak mengkhayalkan untuk pergi kesana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *