Sensasi Wisata Langit ala Gunung Panten di Majalengka

Disebutkan Gunung Paralayang, Gunung Panten yaitu obyek wisata yang gak jauh dari Kota Majalengka. Hadir kesini rasa-rasanya seperti wisata di atas langit.

Gunung Panten yaitu obyek wisata yang gak jauh dari Kota Majalengka. Penduduk ditempat mengatakan Gunung Paralayang sebab jadi spot olahraga paralayang. Dibutuhkan lima kali kunjungan supaya saya mengerti pesona sebetulnya Gunung Panten. Tetapi jangan cemas, Anda tak perlu sejumlah itu. Cuma dalam 24 jam, Anda bakal rasakan kesenangan mendasar berliburan langit di sini.

Silahkan saya katakan apa yang berlangsung. Kunjungan pertama (serta ke-2) terjadi pada 2016. Perjalanan yang gampang, sebab Gunung Panten cuma miliki jarak 7 km. dari pusat kota. Bunderan Munjul (Patung Ikan) jadi titik pemberi tanda paling dulu. Disana, kita ke arah selatan (Jl. Siti Armilah), lalu belok kanan ke arah Desa Sidamukti, desa paling tinggi di bukit itu. Seterusnya tinggal turuti rambu jalan saja.

Kontur jalanan di area ini berbukit serta sempit. Tiap-tiap minggu akhir, pengelola ditempat siapkan ruang parkir luas di lapangan sepakbola Sidamukti buat mangatasi slot parkir di pucuk yang hanya terbatas. Kita dapat meneruskan perjalanan dengan menumpang angkutan pribadi dengan harga Rp 5.000 per orang.

Saya datang jam 12.00 WIB, kala matahari tengah terik. Tapi, udara berasa sejuk sekali. Angin gak henti berdesir di ajang take off paralayang. Terdapat beberapa pengunjung coba olahraga itu. Tarifnya Rp 350.000, baik sendirian maupun tandem. Ketinggian gunung lebih kurang 300 mtr.. Terbersit ngerinya jatuh bebas.

Tapi, itu terbayar saat parasut terkembang. Bentangan sawah serta perkebunan mangga menghijau berjumpa langit biru di ujung langit. Barisan perbukitan serta Gunung Ciremai ikut mempermanis keadaan. Keindahan pemandangan dapat pula kita nikmati kala santai di warung tenda sambil meneguk air kelapa muda atau sekadar swafoto di bibir ruang takeoff.

Kunjungan ke-3 (serta ke empat) berlangsung pada 2017. Saya hadir pagi sekali. Arahnya jelas, mau memburu sunrise. Cuma aneh, matahari tidak keluar walaupun sebenarnya langit cerah. Ada apakah? Tidak mungkin matahari ngaret kan?

Lalu matahari ada dari balik punggung Ciremai. Aha, ini dia pemicunya. Gunung paling tinggi Jawa Barat itu membuat matahari ngaret! Saya terpukau menyaksikannya. Rasa-rasanya seperti memandang lukisan beberapa anak dimana ada matahari, gunung, sawah serta jalanan di tengahnya.

Kunjungan ke-5 hadir dari rasa tidak suka atas empat kunjungan yang singkat. Jadi pencinta langit (baca: pencinta astronomi) saya tuntut eksplorasi yang lebih mendalam, jika memang perlu bermalam disana 24 jam penuh. Pada kunjungan ke-3 serta 4, saya dapatkan Gunung Panten tengah berbenah. Obyek wisata keluarga Paraland tengah diciptakan. Seandainya saja diciptakan juga layanan fasilitas di sini, tentu sengit.

Pada kunjungan ke-5 ini, saya mendapat bonus spesial berbentuk panorama bulan purnama keluar. Warnanya lembayung indah, membuncahkan rasa romantis di diri. Sebetulnya saya telah rasakan nuansa romantis ini kala bertandang saat pagi serta siang hari. Tapi, getarnya berasa lebih kuat kalau kita menyambanginya tidak dicari waktu. Saya mendapat waktu yang berkualitas berbarengan istri terkasih. Demikian pula beberapa anak mendapat pengalaman bernilai mengetahui keindahan alam disekitarnya.

Saya lihat, sejumlah muda-mudi banyak yang datang di ruang take off paralayang walaupun sebenarnya ini jam 20.00 malam. Purnama tentu menimbulkan perhatian mereka bak laron menyintai lentera. Mereka tentu sepakat jika Gunung Panten udah memunculkan jiwa penyair tiap-tiap orang. Biarkanlah keindahan alam wisata Indonesia ini jadi momen prima buat berkontemplasi dalam mensyukuri nikmat Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *