Lembata, ‘Sang Perawan’ dari Nusa Tenggara

Nama Lembata mungkin gak sefamiliar Flores, atau Pulau Komodo yg saling terdapat di Nusa Tenggara Timur. Meski sebenarnya, Kabupaten Pulau Lembata miliki sejuta tempat wisata yg lebih dari sebatas ‘perawan’.

Kabupaten Pulau Lembata terdapat di gugusan Kepulauan Solor, ujung timur Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dapat di katakan, Lembata ialah pulau yg hampir gak terjamah. Sepanjang 5 hari detikTravel bertandang ke pulau ini, ialah mulai 18-22 Januari 2013, cuma segelintir pelancong yg kelihatan. Atau barangkali belum ‘musimnya’, mengingat sejumlah tempat di Pulau Lembata miliki ritual etika di saat-saat khusus.

Masyarakat ditempat terlihat asik dengan kesibukan rutin mereka: berkebun, melaut, atau kerja di lembaga pemerintahan. Mereka terbagi dalam 2 etnis besar: Lamaholot serta Kedang. Semasing etnis miliki etika serta rutinitas berlainan, termasuk juga masalah bahasa.

Tetapi ada satu persamaan dari mereka: ramah tamah. Jarang saya mendapatkan sambutan hangat masyarakat lokal dengan senyum sumringah begini. Tiap kali mobil rombongan kami melalui, masyarakat lambaikan tangan serta mengatakan, “Selamat!” mempunyai arti selamat jalan.

Jangan berharap Anda akan melalui jalanan mulus beraspal. Sebab dari 1,2 juta km2 luas pulau ini, cuma segelintir saja jalanan yg termasuk rapi. Tapi, jalanan baik yg aspal atau yg tanah udah mengaitkan tiap-tiap desa di Pulau Lembata. Dari ibukotanya yaitu Lewoleba, turis dapat membuka semua tempat di beberapa pelosok mata angin.

Di pesisir selatan ada Desa Pasir Putih serta Desa Lamalera. Sesuai dengan namanya, desa yg pertama itu miliki bentangan pantai berpasir putih selama 11 km. Pantai yg paling cantik, menurut detikTravel, ialah Pantai Mingar.

Seterusnya ada Lamalera, desa yg tersohor sebab rutinitas mencari pausnya. Ritual mencari paus adalah pertunjukan budaya teratur tiap-tiap 2 Mei-31 Agustus. Tapi di saat-saat yang lain, turis dapat menyelami kehidupan lokal dengan belajar menenun serta melihat-lihat peninggalan peristiwa yg disimpan baik-baik dalam rumah masyarakat.

Berganti ke utara, ada Kecamatan Ile Ape serta Kecamatan Ile Ape Timur. Tempat favorit di sini ialah Kampung Etika Lewohala di Desa Jontona. Pada 1-7 Juli tiap-tiap tahunnya, warga ditempat mengadakan Pesta Kacang dalam sesuatu perkampungan dengan 77 rumah etika. Pesta ini diperuntukan buat mengucapkan terima kasih atas karunia panen kacang tahun ini, serta berdoa buat kelancaran panen di tahun selanjutnya.

Semasing rumah etika miliki peninggalan peristiwa berwujud keramik kuno, atau beberapa benda keramat seperti sundul kerbau serta gading gajah. Ssst, di pantai Kampung Etika Lewohala, turis dapat memandang kerangka ikan paus biru mempunyai ukuran raksasa! Masyarakat ditempat katakan, paus biru ini terdampar tahun 2005 yang lalu.

Di sisi timur Lembata minimal ada 2 desa yg hampir serupa ‘perawan’-nya: Lewolein serta Beang. Lewolein jadi persinggahan kapal-kapal pesiar dari Flores serta Alor, sesaat Beang miliki bentangan pantai yg aduhai indahnya.

“Ini (pantai di Desa Beang-red) seperti Pantai Kuta di tahun 1960-an,” kata satu diantara anggota rombongan, Yos Sumerta jadi Ketua Asosiasi Wisata Bahari yg berbasiskan di Bali.

Arah kendaraan yg sebagian besar masih jalan tanah ialah rintangan penting turis di Pulau Lembata. Dari satu kecamatan ke kecamatan yang lain dapat menghabiskan waktu 2 jam sebab akses yg susah.

Tetapi buat Anda yg haus akan penjelajahan, malah ini jadi sensasi tertentu! Sewalah mobil Hilux (Rp 250-350 ribu/ hari) buat menjajal medan Pulau Lembata. Tetapi ingat, harus esktra berhati-hati! Anda pun harus mengingat arah supaya tidak tersesat ditengah-tengah rimba. Pilihan terbaik, sewalah pemandu lokal.

Tidak hanya alam serta budaya, Pulau Lembata dikaruniai kekayaan kuliner yg ditanggung menggoyang lidah! Hampir tiap-tiap desa miliki sajian kuliner yg berlainan. Ikan bakar serta sambal ciri khas pastinya ada. Di Desa Beang ada beso, sama dengan bubur gabungan jagung, kacang hijau, santan serta garam. Rasa-rasanya benar-benar nikmat!

Ditengah-tengah perjalanan ketujuan Desa Lamalera dari ibukota Lembata yaitu Lewoleba, singgahlah di Kampung Boto. Pelancong dapat nikmati kopi ciri khas ditempat ditemani snack ciri khas juga: gabungan singkong, gula, serta kelapa parut. Juga ada keripik pisang serta kue kacang yg renyah.

Dapat di katakan, Pulau Lembata ialah tempatnya beberapa petualang. Banyak tempat yg belum dijamah turis. Teknik ketujuan kesini cukup gampang. Dari Lapangan terbang El Tari di Kupang, ada penerbangan Susi Air 2 kali satu hari ketujuan Lapangan terbang Wunopito di Lewoleba.

“Dalam kurun waktu dekat akan ada maskapai Transnusa. Kami udah setuju akan ada penerbangan kesini,” papar Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur kala penyambutan rombongan di tempat tinggalnya pada Jumat (18/1/2013).

Buat fasilitas, ada banyak hotel yg dapat diseleksi seperti Hotel Palm Indah serta Hotel Puri Mutiara di Lewoleba. Di ‘desa paus’ Lamalera ada banyak penginapan yaitu Felmina Homestay, Ben Homestay serta Maria Homestay. Di banyak desa yang lain, masyarakat ditempat siap menyimpan turis. Harga gak mahal, dimulai dari Rp 50.000 buat homestay hingga Rp 850.000 buat kamar suite yang luas di Hotel Palm Indah.

Minat menjelajahi Pulau Lembata? Sediakan fisik yg kuat serta kemauan bertualang yg menggelora!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *