Bertualang di Simeulue, Pulau Surga Penghasil Lobster

Bertualang ke Pulau Simeulue, Aceh yang sangatlah indah, jadi pengalaman traveling yang mengagumkan. Dari pantainya sampai pulau-pulau kecilnya, indah!

Selesaikan pendidikan seperti penduduk negara yang lain mulai membuat saya berpikir apa langkah sesudah itu yang perlu diambil. Seperti lirik dalam lagu Alter Bridge ‘Life Must Go On’ semestinya semuanya ini tak dapat berhenti lewat kata pasif. Miliki hoby dalam sektor photografi membuat saya terus cari tempat serta kondisi yang baru untuk diabadikan, yang mana dengannya membuat saya tak dapat jauh dari kata traveling.

Lahir jauh dari kampung halaman dimana mestinya saya ada, Pulau Simuelue. Populer dengan histori serta keindahan alamnya membuat dia jadi satu diantara pengalaman traveling paling terkesan dari banyaknya perjalanan yang sudah pernah saya laksanakan.

Dari pusat Kota Banda Aceh ketujuan Pulau Simeulue butuh waktu sekitar 16 jam. Pulau Simeulue masih tetap alami serta demikian tenang. Masalah ini mulai merasa di waktu kapal tiup trompet sinyal kalau sudah datang, waktu pertama saya datang memang merasa dikit melelahkan dalam perjalanan ketujuan ke Simeulue, tetapi semua penat hilang terbayar selesai dengan kondisi pagi yang dihidangkan pulau itu terhadap saya. Dengan masih diselimuti kabut pagi, Pulau Simeuelue menyongsong kehadiran saya.

Hari pertama saya merayapi Kota Sinabang sebagai pusat perekonomian di pulau itu serta sembari cari makan unik Simeulue ialah kerupuk Tripang (keripik ulat laut) serta Memek (kombinasi beras ketan, pisang serta santan). Tapi sayang saya kurang mujur untuk makanan Memek unik Simeulue ini.

Tak berhenti sampai disana, sesudah berkeliling-keliling saya berpeluang pergi ke penangkaran Lobster di Simeulue serta mencicipinya lobster. Pulau Simeulue ini sangatlah populer dengan lobsternya sampai Menteri Kelautan serta Perikanan Susi Pudjiastuti pula miliki penangkaran lobster di pulau itu.

Dalam hari sesudah itu saya terus cari serta pergi dengan dibarengi kawan saya ketujuan ke pedesaan-pedesaan di pulau itu serta sembari saya terus cari spot panorama yang bisa saya abadikan di pulau itu. Selama perjalanan mata saya dihidangkan dengan panorama pantai dan gemuruh ombak serta wisatawan asing yang main selancar (surfing). Lokasi disana untuk saya akan tidak habis atau cukup cuma dalam saat 7 hari.

Yang paling terkesan serta paling menyenangkan sewaktu saya berpeluang ketujuan Pulau Mincau yang masih juga dalam daerah Simeulue. Ditemani kawan saya orang Simeulue, saya pergi untuk ketujuan ke pulau itu. Sebelumnya sudah sempat resah serta waswas sebab kita naiki perahu kecil, tetapi semua berjalan dengan lancar saat dua jam tidak dengan kendala di lautan sesudah hampir sampai ke pulau itu.

Kami langsung diterima dengan keindahan bawah lautnya yang ditumbuhi terumbu karang purba. Semua kehidupan dibawah nampak jelas serta yang paling membuat saya berkesan ada suatu pulau tebing di samping Pulau Mincau itu panorama itu sangatlah membuat takjut dengan bentangan pasir putihnya yang luas mengaitkan Pulau Mincau dengan pulau tebing di sebelahnya, Benar-benar panorama yang mengagumkan. Itu yang sangatlah membuat saya berkesan andaikata ada peluang pingin saya pergi ke Pulau Simelue.

Dubai pula kota yang tawarkan demikian banyak faktor yang membuat saya membuatnya salah satu diantara maksud pokok dalam perjalanan saya. Paham peradaban yang tak dapat saya temukan di indonesia, jadi langkah besar untuk mengetahui peradaban dunia, yang tentulah cuma dapat saya nikmati di Dubai. Ini dia suatu hal yang tidak pernah ditawarkan kota mana saja di kota yang lain di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *